Jumat, 11 Oktober 2013

[Media_Nusantara] Dahlan Iskan Berkelit, Internet Menjawab

 

Dahlan Iskan Berkelit, Internet Menjawab

Foto: Dahlan Iskan Berkelit, Internet Menjawab     ASATUNEWS - Sumatera Utara dan Riau sedang mengalami krisis listrik parah. Pemadaman listrik di sana bisa 2 sampai 3 kali dalam sehari. Orang pun teringat akan janji Dahlan Iskan sewaktu menjadi Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara, yang akan menyelesaikan masalah krisis listrik di Tanah Air pada Juli 2011.    Kenyataannya, sampai sekarang, bukan hanya Sumatera Utara dan Riau yang sering mengalami pemadaman listrik. Khusus untuk krisis listrik di Sumatera Utara, Dahlan Iskan malah menuding mantan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin sebagai biang keladinya. Tudingan Dahlan Iskan ini dimuat di berbagai media arus utama. Maklumlah, Dahlan adalah wartawan senior dan pemilik Grup Jawa Pos. Duitnya pun sangat banyak.    Menurut Dahlan, seperti dikutip banyak media utama di negeri ini, ia telah memprediksi kekurangan pasokan listrik tersebut terjadi. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya izin pembangunan pembangkit listrik.    Menurut Dahlan, tiga tahun lalu, ketika masih jadi Direktur Utama PLN, ada rencana membangun pembangkit listrik Asahan 3. PLN telah pun menyiapkan segalanya, mulai dari dana US$ 250 juta hingga desain pembangkit. Namun, pembangunan pembangkit berkapasitas 180 MW ini terganjal izin Gubernur Sumatera Utara saat itu, yaitu Syamsul Arifin.    "Semuanya sudah siap, tapi izinnya tidak dikeluarkan. Gubernurnya tidak mengizinkan. Saya sudah bilang akan terjadi krisis listrik. Saya bilang, 'Pak, nanti akan terjadi krisis listrik.' (Izinnya) tidak dikasih," kata Dahlan di Jakarta, Kamis (3/10).    Dahlan sampai berseteru dengan gubernur tersebut. "Saya sampai perang terbuka dengan gubernur. Ini bukan untuk saya, tapi untuk rakyat Sumut (Sumatera Utara)," kata dia.    Dahlan tampaknya lupa kalau zaman telah berubah. Apa yang sudah tercebur di internet akan sangat sulit dihapuskan, kalau tidak ingin dibilang musykil, kecuali kalau dunia ini kiamat.    Coba buka harian Kompas edisi 23 April 2010. Di sana jelas pernyataan Syamsul Arifin bahwa dirinya akan meneken izin pembangunan pembangkit listrik Asahan 3 kapan saja diminta, asalkan ada jaminan dari Direktur Utama PLN Dahlan Iskan bahwa listri yang dihasilkan hanya untuk kepenitngan memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Provinsi Sumatera Utara.  Dalam berita itu juga dituliskan, Syamsul meminta PLN agar tidak menyalurkan listrik PLTA Asahan III untuk perusahaan yang membutuhkan daya listrik besar dalam operasional seperti PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).

ASATUNEWS - Sumatera Utara dan Riau sedang mengalami krisis listrik parah. Pemadaman listrik di sana bisa 2 sampai 3 kali dalam sehari. Orang pun teringat akan janji Dahlan Iskan sewaktu menjadi Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara, yang akan menyelesaikan masalah krisis listrik di Tanah Air pada Juli 2011.

Kenyataannya, sampai sekarang, bukan hanya Sumatera Utara dan Riau yang sering mengalami pemadaman listrik. Khusus untuk krisis listrik di Sumatera Utara, Dahlan Iskan malah menuding mantan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin sebagai biang keladinya. Tudingan Dahlan Iskan ini dimuat di berbagai media arus utama. Maklumlah, Dahlan adalah wartawan senior dan pemilik Grup Jawa Pos. Duitnya pun sangat banyak.

Menurut Dahlan, seperti dikutip banyak media utama di negeri ini, ia telah memprediksi kekurangan pasokan listrik tersebut terjadi. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya izin pembangunan pembangkit listrik.

Menurut Dahlan, tiga tahun lalu, ketika masih jadi Direktur Utama PLN, ada rencana membangun pembangkit listrik Asahan 3. PLN telah pun menyiapkan segalanya, mulai dari dana US$ 250 juta hingga desain pembangkit. Namun, pembangunan pembangkit berkapasitas 180 MW ini terganjal izin Gubernur Sumatera Utara saat itu, yaitu Syamsul Arifin.

"Semuanya sudah siap, tapi izinnya tidak dikeluarkan. Gubernurnya tidak mengizinkan. Saya sudah bilang akan terjadi krisis listrik. Saya bilang, 'Pak, nanti akan terjadi krisis listrik.' (Izinnya) tidak dikasih," kata Dahlan di Jakarta, Kamis (3/10).

Dahlan sampai berseteru dengan gubernur tersebut. "Saya sampai perang terbuka dengan gubernur. Ini bukan untuk saya, tapi untuk rakyat Sumut (Sumatera Utara)," kata dia.

Dahlan tampaknya lupa kalau zaman telah berubah. Apa yang sudah tercebur di internet akan sangat sulit dihapuskan, kalau tidak ingin dibilang musykil, kecuali kalau dunia ini kiamat.

Coba buka harian Kompas edisi 23 April 2010. Di sana jelas pernyataan Syamsul Arifin bahwa dirinya akan meneken izin pembangunan pembangkit listrik Asahan 3 kapan saja diminta, asalkan ada jaminan dari Direktur Utama PLN Dahlan Iskan bahwa listri yang dihasilkan hanya untuk kepenitngan memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Provinsi Sumatera Utara. Dalam berita itu juga dituliskan, Syamsul meminta PLN agar tidak menyalurkan listrik PLTA Asahan III untuk perusahaan yang membutuhkan daya listrik besar dalam operasional seperti PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).

"Saya kapan pun mau teken (izin lokasi). Minggu ini saya akan bertemu dengan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan. Saya minta jaminan PLN dan Jepang yang akan membangun PLTA Asahan III agar listriknya untuk kepentingan masyarakat Sumut. Saya minta jaminan itu secara tertulis," ungkap Syamsul di Medan pada hari Kamis, 22 April 2010, seperti dikutip Kompas.

Menanggapi soal akan disalurkannya listrik ke Inalum itu, Dahlan Iskan beberapa waktru lalu dengan arogan mengatakan, soal akan disalurkannya listrik itu ke Inalum hanyalah isu murahan. Padahal, kalau Syamsul Arifin sudah bicara seperti dia atas di media nasional, tapi kemudian izin itu tidak juga ia berikan, menurut akal sehat, itu artinya Dahlan Iskan tak mau memberi jaminan seperti yang diminta Syamsul.

Lagi pula, walau begitu banyak media seolah membela Dahlan Iskan, yang sekarang menjadi Menteri BUMN, anggota DPRD Sumut Drs H Rauddin Purba justru menuding Dahlan Iskan sedang mencari kambing hitam dan pernyataannya bahwa Syamsul Arifin yang menjadi dalang krisis listrik di Sumatera Utara adalah pernyataan yang menyesatkan. "Pernyataan itu hanya upaya mencari-cari kambing hitam dan menyesatkan, karena nyata-nyata krisis listrik berkepanjangan di Sumut akibat bobroknya kinerja PLN. Jadi, saya nilai, itu hanya pernyataan kalap Dahlan Iskan," kata Raudin Purba di gedung DPRD Sumut, Jumat (4/10).

Menurut Raudin, Syamsul Arifin ketika itu tidak mau memberikan izin PLTA Asahan III kepada pihak PLN karena sebelumnya izin tersebut sudah diberikan kepada PT Badrajaya Swarna Utama (BSU) oleh gubernur sebelumnya Rudolf Pardede.

Tentu saja, kata dia, Syamsul Arifin tidak memberikan izin lokasi tersebut kepada pihak PLN karena akan berakibat hukum jika izin yang sudah dikeluarkan kepada PT BSU juga diberikan kepada PT PLN. "Jadi tidak mungkin mengeluarkan dua izin di satu lokasi," kata anggota dewan asal pemilihan Binjai-Langkat ini.
Karena itu, menurut Raudin, dirinya amat menyesalkan pernyataan Dahlan Iskan yang terkesan mendiskreditkan Syamsul. Padahal, krisis listrik di Sumut nyata-nyata akibat buruknya kinerja manajemen PLN.

Buktinya, sambung Rauddin, setelah izin prinsip PLTA Asahan III diberikan kepada PT PLN oleh Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho pada Februari 2012, karena PT BSU yang menerima izin prinsip sebelumnya menyatakan mengundurkan diri dari rencana pembangunan tersebut, hingga saat ini apa pun tidak ada yang dilakukan PT PLN.

"Padahal, Asahan 3 direncanakan mulai beroperasi 2014 mendatang. Ini membuktikan PLN memang tidak becus. Hal ini diperparah dengan mental korup pada jajaran top manajemen PLN di daerah ini yang menyeret beberapa pejabatnya sebagai terdakwa karena kasus korupsi mesin pembangkit baru-baru ini," ungkap Raudin.

Bahkan, sebut Rauddin, dari data dan fakta yang diperoleh dewan melalui pansus listrik, beberapa pembangkit yang dikelola PLN tidak dapat berfungsi dengan baik, meski sudah menghabiskan dana ratusan miliar rupiah. Contohnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin yang direncanakan bisa menghasilkan 2 x 115 megawat. Ternyata, PLTU Labuhan yang terdiri dari dua unit itu, satu pembangkitnya rusak dan kapasitas yang dihasilkan pembangkit satunya lagi, hanya 60 megawat. "Begitu juga dengan pembangkit lainnya di daerah ini. Jadi, pernyataan Dahlan hanya untuk menutupi kebobrokan PT PLN yang pernah dipimpinnya," ujar Raudin

Lagi pula, menurut harian Kompas edisi 15 April 2009, PLN pada tahun 2009 mencatat laba bersih Rp 10,356 triliun. Kemudian, pada akhir 2009, Direktur Utama PLN diganti dan masuklah Dahlan Iskan untuk menempati kursi pucuk pimpinan PLN. Dan, ajaib, hanya dalam waktu 22 bulan Dahlan Iskan di sana, PLN mengalami inefisiensi yang mengakibatkan kerugian negara Rp 37,6 triliun, seperti terungkap dalam audit Badan Pemeriksa Keuangan. Aneh bin ajaib!

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar