Minggu, 22 Agustus 2021

“Islam Madani” Versus “Islam Medeni”

Kontestasi "Islam Madani" versus "Islam Medeni"
By Sumanto al Qurtuby

Upaya Mengatisipasi Radikalisme Di Indonesia - Suaradewata.com

"Islam madani" versus "Islam medeni": Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Simak pasang surutnya di peta politik Indonesia dalam kolom Sumanto al Qurtuby.

Belum lama ini saya memberi kuliah umum secara daring di Program Studi Islam Madani (Falsafah dan Agama), Universitas Paramadina, tentang kontestasi antara kelompok "Islam madani" versus "Islam medeni" di Indonesia dan Arab Saudi.

Yang dimaksud "Islam madani" di sini kurang lebih adalah jenis keislaman yang bercorak moderat,toleran, inklusif, dan pro-kebhinekaan serta menjunjung tinggi keadaban dan tradisi berpikir kritis-akademis dalam memahami wacana keagamaan, keislaman, dan sosial-

kemasyarakatan. Inilah jenis keislaman yang diidealkan, diperjuangkan, sekaligus ingin diwujudkan di Indonesia oleh almarhum Profesor Nurcholish Madjid (Cak Nur), pendiri Universitas Paramadina. Nama "paramadina" sendiri mengandaikan "Islam madani" itu yang diinspirasi oleh penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah oleh Nabi Muhammad.

Sementara itu, yang dimaksud "Islam medeni" di sini kira-kira adalah jenis keislaman yang bercorak radikal-ektremis, eksklusif, intoleran, anti-keragaman, suka bertindak atau mendahulukan kekerasan (radikalisme) dalam menyelesaikan masalah sosial-keagamaan serta minus pikiran kritis-akademis dalam memahami dan menafsirkan teks dan wacana keislaman dan keagamaan.

Kata "medeni" di sini diambil dari bahasa Jawa yang berarti "menakutkan" karena memang tampilan mereka yang menakutkan masyarakat luas lantaran suka main kasar, "ngamukan" dan hobi berbuat onar di masyarakat.

Ekspresi atau tampilan kedua kelompok ini di masyarakat tidak sama. Misalnya, kelompok "Islam medeni" itu bervariasi ekspresinya. Ada yang "ultraekstrem" dan mematikan seperti kelompok teroris yang suka ngebom di tempat-tempat umum: tempat ibadah, hotel, restauran, café, kantor polisi dlsb.

Ada yang suka melakukan aksi-aksi vigilantisme atau persekusi seperti menggeruduk umat agama, sekte, atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham atau sehaluan dengan mereka. Ada pula yang suka melakukan "kekerasan verbal" melalui perkataan atau ucapan seperti ujaran kebencian (hate speech), provokasi, dan pernyataan intoleransi terhadap kelompok lain.

Kelompok "Islam madani" pun demikian. Ada yang sebatas "moderat" dan "toleran", baik dalam perkataan maupun tindakan. Ada pula yang tingkatannya lebih tinggi sedikit, yaitu sikap "pluralis" (atau mereka yang berpegang pada prinsip pluralisme) yang bukan hanya sebatas bersikap moderat dan toleran terhadap umat agama lain tetapi juga diiringi dengan tindakan "deep engagement and dialogue", baik melalui tindakan pergumulan fisik (bahasa Jawa: "srawung") maupun dengan mempelajari serta keinginan kuat untuk mengetahui dan menggali lebih jauh aneka ragam praktik keagamaan umat lain.

Aneka ragam kelompok

Penting untuk diketahui bahwa baik kelompok "Islam madani" maupun kelompok "Islam medeni" bukanlah unik Indonesia. Hampir di setiap negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim, memiliki kelompok ini. Bahkan di negara-negara di Eropa, Amerika Utara, atau Australia dlsb, kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" juga ada.

Tentu saja, "ekstremisme" dan "moderatisme" bukan hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain pun memiliki kecenderungan yang sama: ada kelompok agama yang bercorak ekstrem di satu sisi, dan moderat di pihak lain.

Kedua kelompok ini saling berebut pengaruh di masyarakat untuk merebut "hati" umat Islam. Dalam sejarah Islam, fenomena ini bukanlah hal baru sebetulnya. Sudah sejak masa awal formasi Islam di abad ke-7 M, kontestasi antara kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" ini sudah ada yang kemudian kelak menjadi aneka ragam mazhab, aliran, sekte, atau kelompok keislaman.

Dalam konteks Islam, perseteruan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad (w. 632 M) menyebabkan umat Islam terbelah menjadi aneka ragam kelompok sektarian dengan beragam ekspresi sosial-kepolitikan dan keislaman.

Ada kelompok yang "pasrah" serta mengedepankan "quietism" dan "apolitis" seperti Murji'ah tetapi ada pula kelompok yang sangat ekstrem dan frontal melakukan tindakan kekerasan bahkan dengan melancarkan serangkaian aksi pembunuhan sistematis pada para tokoh dan sekelompok Muslim yang berseberangan dengan mereka seperti yang dilakukan oleh kaum Khawarij.  

Dari dulu hingga kini, mereka sama-sama mengembangkan strategi, mekanisme, cara, dan taktik tertentu dalam berdakwah, "berjuang", bersosialisasi, dan bermasyarakat agar mendapat simpati publikMuslim dan banyak pengikut.

Bedanya, kelompok "Islam medeni" tidak sungkan-sungkan menggunakan pendekatan kekerasan (fisik maupun verbal) sedangkan kelompok "Islam madani" tidak menyukai kekerasan fisik tetapi lebih menyukai atau mengedepankan "perang pemikiran" (battle of thought).

Mereka juga sama-sama menggunakan legitimasi atau justifikasi teks-teks keislaman yang diambil dari Al-Qur'an, Hadis, atau dalam konteks kontemporer ditambah kitab-kitab atau pendapat (aqwal) para ulama panutan mereka, baik yang klasik maupun modern, guna mendukung dan memperkuat pendapat, pemikiran, dan praktik keagamaan yang mereka lakukan.

Pula, khususnya dalam konteks kontemporer seiring dengan perkembangan teknologi, mereka menggunakan beragam media (cetak, visual, audio-visual, online atau melalui perkumpulan dan pengajian rutin) dan aneka institusi (masjid, madrasah, ormas, Islamic center dlsb) untuk menyebarluaskan ide-ide mereka. Dulu, perseteruan dilakukan melalui masjid atau forum-forum pertemuan publik saja.

Menjalin patronase dengan kekuasaan

Dalam sejarahnya dan bahkan hingga kini, baik kelompok "Islam madani" maupun "Islam medeni" sama-sama berusaha menjalin patronase dengan kekuasaan (rezim politik) untuk melanggengkan gagasan dan visi-misi mereka di masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena kekuasaan politiklah yang mempunyai atau memegang otoritas dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi, finansial, dan kepolitikan.

Dalam upaya untuk berpatron dengan kekuasaan ini, ada kalanya kelompok "Islam madani" yang berhasil dan kemudian ikut mengontrol produksi wacana keislaman tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang berhasil "berbulan madu" atau bersinergi dengan kekuasaan yang kemudian "membabat" habis rival-rival politik dan agama mereka. Misalnya, kelompok Sahwa di Arab Saudi untuk contoh "Islam medeni" di awal 1980an tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kelompok "Islam madani" yang berpatron dengan pemerintah.

Tetapi ada pula yang kemudian berubah, mengalami transformasi atau menjelma dari kelompok agama menjadi kelompok politik karena sukses mengontrol teritori negara. Contohnya, untuk kasus "Islam medeni", adalah fenomena kaum Taliban di Afghanistan pada pertengahan 1990an atau kelompok "Revolusi Islam" di Iran pada akhir 1970an.

Kalau melihat data-data sejarah dari dulu hingga kini, kelompok "Islam madani" yang lebih banyak "diatas angin" dalam pengertian sukses menjalin koalisi dengan otoritas politik. Meskipun di beberapa negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika (sebut saja Mesir, Lebanon, Palestina, Sudan, Aljazair, Iran, atau Yaman) kontestasi kedua kelompok cukup dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu dalam hal perebutan akses kekuasaan politik-pemerintahan.

Ada kalanya kelompok "Islam madani" yang unggul tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang sukses.

Siapa yang menang?

Dalam konteks Indonesia, kontestasi kedua kelompok selalu dimenangkan oleh "Islam madani", meskipun sudah sejak awal kemerdekaan kelompok "Islam medeni" berusaha merebut, mengontrol, dan mendominasi kekuasan dan negara seperti yang dilakukan oleh para pendukung Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada tahun 1949)

Baik Sukarno maupun Suharto sama-sama antikelompok "Islam medeni", meskipun di akhir-akhir kekuasaan Pak Harto ia menjalin "kongkalikong" dengan kelompok "Islam medeni" untuk mengimbangi atau membendung gerakan "Islam madani" yang mulai berani mengkritik kekuasan, pemerintah, dan Pak Harto.

Setelah Pak Harto tumbang, kelompok "Islam medeni" mendapatkan "angin surga". Mereka terus berusaha menggelembungkan diri dengan berbagai cara, misalnya memperbanyak ormas, membuat sekolah, atau secara terbuka berceramah. Jadi, demokrasi adalah "berkah" buat kelompok karena demokrasilah mereka bisa berkembang biak. Ironisnya, mereka sering mengkritik demokrasi karena dianggap produk sekuler-Barat yang tidak Islami.

Kelompok "Islam medeni" juga terus berusaha mempengaruhi para pemangku kebijakan (pemerintah atau politisi) untuk memuluskan jalan bagi pembuatan berbagai peraturan hukum (Perda, Pergub, Surat Edaran, dlsb) yang diambil dari aturan hukum Islam tertentu.

Meskipun demikian, hingga kini, kelompok "Islam medeni" ini belum berhasil menguasai kekuasaan politik-pemerintahan. Nasib mereka semakin tersungkur karena Presiden Joko Widodo dan jajarannya mulai gencar membungkam kelompok ini serta memangkas jaringan dan sel-sel mereka. Itu belum lagi ditambah gerakan masif-intensif yang dilakukan oleh para eksponen "Islam madani" seperti Nahdlatul Ulama yang gencar "memerangi" pemikiran dan gagasan "Islam medeni".

Bagaimana "nasib" kelompok "Islam medeni" ini ke depan? Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Waktu nanti yang akan menjawabnya.
 
Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, D.C

Sabtu, 21 Agustus 2021

Bersumber dari Pendangkalan

Bersumber dari Pendangkalan
by KH. Abdurrahman Wahid

Gus Dur Gitu Aja Kok Repot - Home | Facebook

Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah "bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a'la al-kuffar ruhama baynahum).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata "kafir" atau "kuffar" adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, "taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan" (Athi u' allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan— mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.

Tindak kekerasan –walaupun atas nama agama— dinyatakan oleh siapapun dan dimana pun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan "berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa".

Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudh untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudh meminta kata-kata "tidak berdosa" diubah menjadi "tidak bersalah".

Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistic sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai "tindak kejahatan/ kriminal" yang harus dihukum.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, "hokum barat" dapat dijadikan "hukum Islam", jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hokum pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).

Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.

Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari "responsi yang benar" atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah "agama kedamaian" bukannya "agama kekerasan". Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan –atas nama Islam— yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?

Jakarta, 31 Desember 2002

Confirm Running Online Training : 1.Mendesain Salary Structure; 2.Practical Assertive Communication; 3.Mastering Spreadshet Data using Ms. Excel 2010




Value Consult Online Training

Click HERE to Unsubscribe from Our Newsletter

2 Day Online Training

Online Training : Mendesain Salary Structure


By Zoom, Jakarta, 30-31 Aug 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 3.000.000,-

Latar Belakang

Sejatinya perkembangan industri di Indonesia sangat berkembang dengan pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik. Dalam menjalankan tugasnya, para profesional Sumber Daya Manusia menghadapi berbagai tantangan yang menantang antara lain tuntutan perusahaan untuk menaikkan produktifitas dan efisiensi, minimisasi cost produksi serta situasi dan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang tidak menentu yang pada intinya bermula dari kesejahteraan dan penghasilan.

Dengan perkembangan ketatnya persaingan bisnis, perusahaan berlomba-lomba berusaha mendevelop strategy dan system retainment, agar high potential dan career person yang menjadi kekuatan dan ketahanan dalam bisnis tidak pindah ke perusahaan lain baik sejenis atau bukan sejenis. Oleh karena itu perusahaan harus memperhatikan external competitiveness maupun internal equity di dalam mendesain paket remunerasi yang merupakan critical factor di dalam usaha untuk mendesain strategy dan system baik attracting maupun retaining, melalui Evaluasi & Penyusunan Job Description, melakukan Job Evaluasi dan menentukan Grading System serta mengimplementasikannya kedalam Salary Structure yang  competitive dan fair serta melakukan optimasi terhadap Pay for Performance.

Dalam workshop ini, para peserta akan dibekali pemahaman secara mendasar dan cepat, sekaligus akan diberikan metode untuk mendesain Job Evaluasi versi Mercer sehingga di organisasi manapun juga, kita tidak akan merasa kesulitan untuk melakukan desain & implementasi.

Tujuan Pelatihan

Peserta dilatih untuk memiliki kualifikasi & kompetensi sebagai Praktisi HR yang Expert & Professional

Peserta mampu membuat terobosan-terobosan baru dalam lingkup Indonesia & Internasional (kelas dunia)

Materi Pelatihan

Durasi 2 hari ( 09.00 - 15.00 WIB)

  1. Memahami dasar-dasar kompensasi sebagai aspek dari manajemen penggajian dan imbalan karyawan perusahaan.
  2. Memahami dan mampu menerapkan aturan perundang-undangan yang berlaku sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku dan kaidah internasional.
  3. Memperoleh pemahaman dan mampu menciptakan Job Evaluasi yang sesuai dengan visi, misi dan budaya perusahaan.
  4. Mampu melakukan evaluasi jabatan di setiap fungsinya sesuai dengan format yang umum di industri (internasional standard & customize).
  5. Mampu mengaplikasikan struktur upah berdasarkan kinerja & kompetensi.
  6. Memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar instrument struktur upah.
  7. Mampu menterjemahkan peran serta kompensasi dalam peningkatan kinerja.
  8. Mampu menciptakan instrumen kompensasi berkenaan dengan peningkatan kinerja serta melakukan eksekusinya.
  9. Mampu mensinergiskan antara kompensasi dengan kinerja & kompetensi serta melakukan implementasinya.
  10. Memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar instrument salary structure (minimum-maksimum, pay range, mid point, jumlah kelas, range grade, compa ratio dll).
  11. Mengetahui dan memahami sistematika penyusunan struktur penggajian serta melakukannya.
  12. Mampu menentukan jumlah grading/class yang optimal untuk salary structure di perusahaan serta menyesuaikannya dengan kepentingan organisasi.
  13. Mampu melakukan audit penggajian serta trouble shootingnya.
  14. Mampu melakukan Salary Administration (Simulasi Payroll terhadap Salary Increased) dengan beberapa teknik kenaikan gaji (General Increased, Merit Increased & Merit Metrics)
  15. Mampu membuat & menyusun struktur gaji untuk organisasi yang berbeda dengan tepat & sistematis.
  16. Memahami metoda & teknik  Mercer serta mampu melakukan eksekusi & mengimplementasinya.
  17. Mampu mempersiapkan diri sendiri untuk expert dalam pengambilan keputusan dan penguasaan teknik-teknik kompensasi yang lebih tinggi yang digunakan dalam penggajian dan selaras dengan kaidah internasional yang sejalan dengan perusahaan

Facilitator

Daniel Saputro, MM., MBA.

Daniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 25 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)  – People Development  – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System.

Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN.

Perusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya) dan Acer (Jakarta) , Infomedia dan Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dan banyak lainnya

Di sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, kini, dia aktif menjadi fasilitator MiniMBA serta pengajar mata kuliah bisnis dan pemasaran di program S2. Daniel juga menggunakan tulisan sebagai sarana untuk membagikan ilmunya. Ia menjadi kontributor untuk Tabloid KONTAN, Swa, dan Jakarta Post.

Untuk Family Business, kami membantu suksesi dan transformasi menuju  perusahaan yang lebih professional. Dengan cara membentuk Leadership yang profesional dan menggunakan KPI  berbasis balanced Scorecard. 

Training Fee

  • Rp. 3.000.000 ,- (Early Bird, REG before 16 Aug 2021 payment before 20 Aug 2021)
  • Rp. 3.500.000,- (Full fare)

Lebih lanjut klik di sini >>

2 Day Online Training

Online Training : Practical Assertive Communication


By Zoom, Jakarta, 13-14 Sep 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 3.000.000,-

Kesuksesan dan kegagalan seorang professional bila diikuti lebih runut adalah kepiawaian atau pun kegagalan individu tersebut dalam berkomunikasi. Komunikasi adalah infrastruktur bagi seseorang untuk menyampaikan buah pikiran, bantahan ataupun dukungan kepada para stakeholders. Kemampuan seseorang dalam bidang tertentu wajib diikuti oleh kemampuan berkomunikasi yang baik dan memadai agar keahlian individu tadi dapat dirasakan dimanfaatkan orang lain dan terutama juga termasuk alat yang memegang peranan penting dalam perkembangan karir seseorang.

Kegagalan sebuah interaksi banyak dipengaruhi oleh kemampuan pihak-pihak dalam bidang komunikasi. Solusi yang produktif baru akan tercapai bila pihak-pihak yang terlibat menggunakan kiat-kiat berkomunikasi efektif sehingga pembicaraan bermakna dan akurat

Berkomunikasi dengan asertif akan sangat meningkatkan efektivitas dan dan dapat diharapkan berdampak positif terhadap hasil komunikasi itu sendiri. Diperlukan ketrampilan khusus agar seseorang terbiasa melakukan komunikasi asertif pada saat yang tepat. Untuk ini pula dibutuhkan kemampuan menyimak/ mendengar aktif yang mencukupi sebagai bagian dari komunikasi asertif

Outline Materi

  1. Memahami ketrampilan mengirim dan menerima pesan
  2. Ketrampilan berkomunikasi yang komunikatif
  3. Manfaat ketrampilan berkomunikasi asertif
  4. Melatih penggunaan teknik komunikasi asertif
  5. Melatih cara menyampaikan bahasa verbal dan non verbal yang sesuai
  6. Ketrampilan mendengar empatik/ menyimak
  7. Ketrampilan berkomunikasi efektif dengan atasan
  8. Ketrampilan memberikan instruksi dan umpan balik

Facilitator

Anwar Haliyanto, MM

Anwar Haliyanto,  salah satu lulusan terbaik dari Prasetya Mulya Business School dengan menyandang Magister Management, yang banyak mempelajari dan mendalami kebijakan strategis perusahaan dalam usahanya untuk terus bertumbuh melalui sumberdaya manusia yang lebih unggul, membuat Anwar banyak terlibat dalam pengembangan sumber daya manusia. Anwar Haliyanto juga alumni Henley University London dibidang management keuangan Perusahaan Kesehatan dan Farmasi, Anwar Haliyanto juga sudah menyelesaikan International Management Program dalam Diabetes Disease Management di Darmstad Germany, Woman's Health Care Seoul dan Fresenius Advance Nutrition Course Hong Kong.

Posisi  terakhir nya sebagai Direktur Marketing di salah satu perusahaan Multinasional memberikan banyak pengalaman dalam menyususn strategy maupun implementasi dalam mencapai target perusahaan, ditambah lagi pengalaman di lapangan sebagai Sales Manager, Produk Manager dan Marketing Manager, membuat Anwar Haliyanto mampu berkomunikasi kepada semua lapisan di dalam perusahaan.

Marketing Reasearch adalah salah satu bidang yang selalu menjadi fokus perhatiannya semanjak di posisi Manajer sampai menduduki jajaran direksi karena hal ini merupakan kunci sukses strategy perusahaan

Sejak TH 2010 Anwar Haliyanto, MM memutuskan untuk memulai karirnya sebagai Independent Coach dan Trainer, dengan banyak memberikan pelatihan Marketing, Sales Manegement dan Product Development.

Training Fee

  • Rp. 3.000.000 ,- (Early Bird, REG before 30 Aug 2021 payment before 3 Sep 2021)
  • Rp. 3.500.000,- (Full fare)

Lebih lanjut klik di sini >>

2 Day Online Training

Online Training : Mastering Spreadshet Data using Ms. Excel 2010


By Zoom, Jakarta, 23-24 Sep 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 3.000.000,-

LATAR BELAKANG :

Berdasarkan pengalaman mengisi training di sejumlah perusahaan dari tahun 2002 – sekarang, muncul banyak permintaan dari sejumlah karyawan  (accounting & finance, purchasing, production, sales, dll) akan adanya solusi yang efektif dan efisien untuk dapat melakukan otomatisasi pengolahan data dalam jumlah yang besar ( lebih dari 65.000 record ), yang sumber datanya dapat berupa file text atau format data dari hasil convert aplikasi program database lain.

Kemudian database hasil convert (import) tersebut harus dapat divalidasi secara cepat dan tepat agar dapat menghasilkan data yang benar.

Pengolahan data seperti itu tentunya tidak dapat dikerjakan oleh Ms.Excel XP, 2002 dan 2003. Sedangkan di Excel 2010 dan selanjutnya masalah-masalah tersebut semua dapat di atasi secara cepat dan tepat.

OBJECTIVES :

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta diharapkan mampu untuk :

  1. Membaca dan memasukkan berbagai macam data : text file dan database yang lain yang jumlah record lebih dari 65.000 record ke dalam Excel 2010.
  2. Memaksimalkan penggunaan fungsi atau metode pengolahan dan validasi data yang ada dalam aplikasi Microsoft Excel, agar  pekerjaan pengolahan data menjadi jauh lebih cepat dan hasilnya lebih tepat.
  3. Melakukan disain, summary database dan query data.
  4. Membuat proses otomatisasi pekerjaan pengolahan data hanya dalam 1 penekanan tombol saja.
  5. Membuat rumus penting untuk pengolahan data tidak terlihat di lembar kerja yang aktif dantidak dapat diedit oleh user lain, kecuali oleh Anda.
  6. Membuat rumus untuk pengolahan data tidak dapat dicopy ke tempat lain oleh user lain, kecuali oleh Anda.
  7. Membuat laporan yang menarik, dinamis dan interaktif

OUTLINE :

  1. What's New in Excel 2010
  2. Read of Ribbon menu
  3. How using database import
  4. How using of Cell Address Automation.
  5. How using of Data Sort
  6. How using of Conditional Formatting
  7. How using of Consolidate method.
  8. How using of String Function
  9. How using of Numeric Function.
  10. How using of  Remove Duplicates Tools
  11. How using of Single and Multiple IF() Function.
  12. How using of Logic Operator AND and OR.
  13. How using of Table Function and Operational Table.
  14. How to make union field key
  15. How using Auto Filter with union field key
  16. How using of  PivotTable method.
  17. How using of  PivotChart method.
  18. How using of Format Cells for Locked and Hidden Cells
  19. How using of Using Allow Users to Edit Range ( Permission User Access Setting )
  20. How using of Protect Sheet ( Select Locked Cells and Select Unlocked Cells )
  21. How using of Understanding and Implementation Macro and Record Macro.
  22. Training evaluation

ALAT DAN BAHAN :

Peralatan yang diperlukan Untuk setiap Peserta adalah 1 unit PC/Laptop yang sudah terinstall  Sistem Operasi Windows (Windows 7/8), serta Perangkat Lunak pendukung yaitu, Ms. ExcelMs. Word, dan Ms. Power Point (Office 2010 atau Lanjutan nya)

FACILITATOR :

 

ERAWAN SUPRIATNA, S. Kom

Praktisi & trainer yang mempunyai pengalaman lebih dari 21 tahun menjadi instructor / trainer di beberapa lembaga pelatihan swasta, instansi pemerintah / swasta  di Jakarta, mulai tahun 1992 – 2003, antara lain  di PT. Asiana IMI Industries, Tbk.,  PT. COMBIPHAR,  di PT. LG Philips Display Devices Indonesia, PT. LG Electronics Indonesia, PT. LG Innotek Indonesia dan PT. Harita Prima Abadi Mineral (Mining Company).

Pernah menjabat sebagai Manager Training & Development di perusahaan swasta dan perusahaan jasa konsultan. Jabatan terakhir adalah sebagai Direktur Training & Development di perusahaan swasta IT training and consulting. Sekarang beliau menjadi Trainer dan consultant di beberapa perusahaan provider training and consulting.

Beliau termasuk dalam tim konsultan manajemen kearsipan dan pengembangan software EFIDMS (New EDMS).  Aktif di dalam proyek-proyek pelatihan dan konsultasi serta pengembangan dan implementasi Electronic Filing and Document Management System, baik di instansi pemerintah, swasta, organisasi perbankan dan asuransi.

Selain tema pelatihan tersebut di atas, beliau juga memberikan pelatihan IT sebagai berikut :

IT Infastructure Library (ITIL v3.1), Amazing Presentation for Powerful Presentation with PowerPoint 2010, Best Practices Implementation of Word 2007 for Business, Excellent Automation Process with Visual Basic Application Excel2007, Implementation of Electronics Filing & Document Management System, Implementation of Financial Accounting Information System, Implementation of Payroll Administration Information System, Mastering Excel 2007 Beyond For Data Processing Automation, Powerful Data Analysis and Dashboard Summary Report with Excel2007, RDBMS Application Development with Access 2007, Control Object for IT (COBIT v.4.1), Managing of Information Technology Investment.

Selain itu juga beliau adalah praktisi pelatihan dengan metode quantum teaching, quantum learning, mind mapping  dan NLP di  bagian pengembangan sumber daya manusia (HRD Training & Development) selama lebih dari 7 tahun. Dengan perpaduan metode pelatihan seperti itulah,  pelatihan seberat apapun selalu dibawakan secara ringan, jelas dan tuntas. Sehingga proses pelatihan berlangsung dengan menyenangkan dan mencapai tujuan yang diinginkan oleh peserta pelatihan.

Training Fee

  • Rp. 3.000.000 ,- (Early Bird, REG before 9 Sep 2021 payment before 13 Sep 2021)
  • Rp. 3.500.000,- (Full fare)

Lebih lanjut klik di sini >>



Contact Us

Ms. Ori & Ms. Riri

Training Series

Click the list below to subscribe specific training series only, we will send as individual email :

  1. School of Training
  2. HR Management Series
  3. Managerial Skills / Soft Skills Series
  4. Production / Operation Management Series
  5. Marketing Management Series
  6. Financial Management Series
  7. Legal Series
  8. IT & Telecomunication Series
  9. All Series

 

 

More Training in 2021

©Copyright 2021 Value Consult, Training & People Development Consultant

Jumat, 13 Agustus 2021

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Anies dan Khofifah Hadiri Kongres Partai Nasdem, Apa Maknanya?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dinilai mejadi kelihatan otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Jatim pada Jumat (13/8/2021), menanggapi polemik yang muncul akibat perilaku Khofifah dalam menangani pandemi covid-19. Dimana sebelumnya Khofifah menyatakan bahwa ada daerah di Jatim yakni Surabaya dan Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity atau kekebalan komunal.

Klaimnya yang dimuat dan viral di berbagai media itu tentu saja memicu kritik, saran dan masukan dari masyarakat agar sebagai Gubernur . Khofifah tidak sembarangan klaim bahwa sudah ada Herd Immunity di Jatim.  Karena jika sudah ada Herd immunity, tentunya tidak perlu lagi ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan dalih untuk mencegah meluasnya penularan covid-19.

Setelah panen kritik, tiba-tiba Khofifah menyangkal bahwa sebelumnya dia pernah menyatakan bahwa kota Mojokerto dan kota Surabaya sudah mencapai Herd Immunity.

Untuk itu entah ada faktor apa, ada media yang menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity" dan menggantinya dengan berita lain. Akan tetapi sebelum dihapus dan diganti dengan berita lain, sudah banyak masyarakat yang melakukan screenshoot atau tangkap layar atas berita tersebut, sehingga jejak digital tidak sempat terhapus/hilang.

Sedangkan beberapa media tidak mau menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity", karena bisa jadi mereka memang mendengar pernyataan Khofifah seperti itu dan atau memiliki rekamannya.

" Dari rentetan ini, Khofifah terlihat otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat", kata Sapto Raharjanto, ketua DPW Seknas Jokowi Jatim.

Sebagaimana viral diberitakan, pada Jumat 6 Agustus 2021 Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebut Surabaya dan kota Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity.

Dengan pernyataannya itu, Khofifah diingatkan oleh berbagai kalangan masyarakat, diantaranya oleh Deni Wicaksono, anggota Komisi E DPRD Jatim yang menbidangi kesehatan, agar hati-hati membuat narasi atau klaim adanya pencapaian herd immunity pada sejumlah daerah di Jatim.

Saran atau nasehat yang diberikan oleh Deni pada Sabtu 7 Agustus 2021 itu karena herd immunity baru terwujud ketika sebagian besar orang dalam kelompok sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi. Salah satu jalannya lewat vaksinasi. Konsensus ahli, sekitar 70 persen warga tervaksin, tapi dalam konteks Covid-19, itu tercapai ketika sudah lengkap dua dosis. Faktanya, tidak ada satu pun kabupaten/kota atau provinsi di Indonesia yang telah mencapai itu.

Deni menyebut pernyataan  Khofifah itu menjerumuskan karena berpotensi membuat masyarakat di daerah yang disebut Khofifah sudah herd immunity lengah terhadap Covid-19 yang masih mengganas.

Pernyataan Khofifah itu menurut Deni, juga juga berpotensi mengadu domba karena publik di daerah tersebut akan memprotes keras pemerintah kota atau kabupatennya, mengapa tetap ada pembatasan (PPKM) ketika herd immunity sudah diklaim oleh Gubernur Jatim

Begitu diingatkan atau diberi saran, entah ada apa sontak beberapa media menghapus berita yang berisi klaim Khofifah bahwa di Jatim sudah ada daerah yang mencapa herd immunity, akan tetapi beberapa media lain tidak mau menghapus pemberitaan tersebut.

Dan pada Senin 9 Agustus 2021, saat mengudara pada sebuah acara radio sebagaimana disiarkan https://www.instagram.com/p/CSWLCmlMCbw/ , Khofifah menyangkal bahwa dirinya pernah bilang bahwa Kota Mojokerto dan Surabaya sudah mencapai herd immunity.

Bantahan Khofifah pada siaran tersebut akhirnya menuai banyak kritik dari para pemirsa, diantaranya yang disuarakan oleh @umaralhakimhakim yang menyatakan "Alasane uakeh (alasannya buanyak), pemimpin yang baik itu sebelum melempar pernyataan harus disesuaikan dengan data dan realita".

Sedangkan @andik_rekkles berkomentar "Omonganmu mbulet koyo... (Bicaramu ruwet/ silang sengkarut seperti...)"

Malah ada yang sinis seperti @erryseptiawan yang menyindir "Ayo bu pesta ulang tahun maneh, mumpung PPKM belum ditutup (Ayo bu pesta ulang tahun lagi, mumpung PPKM belum ditutup)


Ketua Seknas Jokowi Jatim
Sapto Raharjanto
HP/WA: 082141751575

Selasa, 03 Agustus 2021

KETIKA SUNDA MENJADI ARAB..

KETIKA SUNDA MENJADI ARAB..
Apa yang sebenarnya dibutuhkan Jawa Barat ?


Jelajah Budaya Tanah Sunda

Jawa barat - menurut Wahid Foundation - adalah provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi.

"Tingginya angka intoleransi di Jawa Barat menjadi kontradiktif dengan kultur dan budaya masyarakat Sunda sebagai 90 persen suku yang tinggal di Jabar yang terkenal sebagai masyarakat yang toleran, optimistis, periang, sopan, dan bersahaja," Begitu kata Mujahidin Nur Direktur The Islah Center TIC.

Memang kontradiktif. Betapa semua keluhuran tinggi budaya Sunda yang tercermin dari rakyatnya, menuju binasa dengan masuknya budaya timur tengah yang mulai mendominasi. Orang-orang sunda banyak yang lebih suka pakai gamis dengan gaya Arab daripada pakaian daerahnya. Mereka sudah banyak juga yang sibuk dengan bahasa Arabnya daripada bahasa Sunda.

"Kultur masyarakat Sunda yang berubah, banyak dipengaruhi oleh kedekatan daerahnya dengan Jakarta.." Begitu kata seorang teman yang bersuku Sunda. "Tumbuh kota-kota metropolis dengan perkembangan bangunan yang pesat, menghilangkan ciri pedesaan yang sudah melekat di masyarakat Sunda.

Ada gegar budaya - culture shock - ketika masyarakat Sunda harus mengikuti perkembangan metropolitan. Bahkan tidak ada lagi ciri-ciri kesundaan di gedung-gedung kota, seperti di Bali dan Jogja. Hilang. Sunda menjadi tidak sunda lagi.. " Keluhnya.

"Akhirnya, karena kebingungan dengan hilangnya budaya itu, warga Sunda mencari pegangan lain, dengan agama. Dan masuklah pengaruh Arab yang sangat kuat di wilayah Sunda. Bukan masalah agamanya, tetapi dengan penjajahan budayanya.." Dia merenung sambil menyeruput kopinya.

"Lihat saja di Puncak sana, banyak sekali tulisan Arab menunjukkan hilangnya identitas Sunda dalam pergaulannya. Puncak menjadi sangat Arab, dan orang Sunda tersingkir, hanya menjadi komoditas dalam kesehariannya.."

"Jadi wajar jika Jawa Barat akhirnya menjadi provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi, karena budaya timur tengah di daerah asalnya saja suka ribut sendiri diantara mereka. Dan budaya itu dibawa kesini.." Secangkir kopi lagi ditambahkan sebagai penyemangat..

"Apa yang kamu harapkan supaya Sunda bisa menjadi sunda lagi ?" Tanyaku lagi.

"Seorang pemimpin dengan jiwa kesundaannya yang sejati. Bukan yang sibuk politisasi agama untuk meraih suara. Yang sibuk menyalurkan kredit ke masjid-masjid supaya mengikat mereka. Yang sibuk mengukur mayoritas dan minoritas berdasarkan apa agama mereka. Mayoritas difasilitasi, minoritas dilindungi, itu maksudnya apa ?

Yang sibuk mengadakan shalat subuh berjamaah yang bernuansa politis, tapi lupa mempertahankan budaya. Yang sibuk membangun gedung dan taman, tapi lupa akar masyarakat Sunda.." Dia nyerocos tanpa henti mengungkapkan uneg di dadanya.

Dan dia berdiri sambil mengakhiri pidatonya.

"Sebenarnya sudah ada pemimpin urang Sunda yang melawan budaya itu terang-terangan. Dia dimusuhi oleh ormas berbaju agama sejak lama. Rekam jejaknya bisa dibaca dimana saja. Dia melakukan penentangan itu bukan karena politis atau karena kampanye, tapi karena kecintaannya pada tanahnya, pada sukunya, pada leluhurnya, pada akarnya..

Dia harapan kami, supaya kepala kami bisa tegak berdiri kembali sebagai urang Sunda di tanah Sunda. Beri dia kesempatan. Perang mengembalikan budaya Sunda ini panjang, tetapi harus dimulai. Dan itu harus dimulai.. "

Temanku dengan ikat kepala khas suku sundanya berlalu. Dia pergi membawa mimpi, yang harus dia perjuangkan sekarang ini.

Tanggal 27 Juni adalah waktu dia dan teman-temannya seideologi memperjuangkan akarnya kembali.

Selamat berjuang, saudaraku. Sunda adalah identitas kalian. Semoga engkau bisa memilih pemimpin yang kalian cita-citakan..

Salam secangkir kopi..

Denny Siregar