Jumat, 14 Juli 2023

Polda Jatim Usut Dugaan Korupsi Dana Pendidikan Bondowoso Jawa Timur

Dugaan korupsi dana pendidikan dalam pengadan peralatan teknologi informasi dan komunikasi untuk sekolah dasar (SD) di kabupaten Bondowoso Jawa Timur mulai diusut oleh pihak kepolisian dalam hal ini Polda Jawa Timur.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim melalui suratnya Nomor: B/5751/VII/Res.3.5/2023/Ditreskrimsus tertanggal 5 Juli 2023 telah memanggil pihak Dinas Pendidikan kabupaten Bondowoso untuk dimintai keterangan dan pemeriksaan dokumen pada Senin, 10 Juli 2023, akan tetapi pihak Dinas Pendidikan mangkir atau belum memenuhi panggilan dari aparat penegak hukum tersebut.

Kasus yang diusut oleh Polda Jatim ini terkait, pengadaan peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SD BKK Tahun Anggaran 2022 pada Dinas Pendidikan kabupaten Bondowoso, dimana peralatan yang dibeli dari PT Ladang Karya Husada melalui e-katalog ternyata ada indikasi bahwa barang yang dikirim tidak sesuai dengan barang yang ditawarkan melalui e-katalog dan kontrak pembelian.

Oleh karena itu, Achmad Yuswanto, ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKIN) Bondowoso pada suratnya yang juga disampaikan pada aparat penegak hukum berharap agar aparat hukum berani mengusut tuntas dugaan korupsi senilai milyaran rupiah yang melibatkan Dinas Pendidikan kabupaten Bondowoso dan PT Ladang Karya Husada group tersebut.

Apalagi dinas pendidikan kabupaten Bondowoso, berani mangkir dan belum memenuhi panggilan untuk diperiksa oleh Ditreskrimsus Polda Jatim, apakah ini menunjukan bahwa benar adanya dugaan bahwa PT Ladang Karya Husada Group dalam menjalankan aksinya mendapat dukungan (backing) /mencatut oknum pejabat tinggi aparat hukum, sebagaimana sering disampaikan oleh yang bersangkutan?

Maka MAKIN Bondowoso berharap bahwa Polda Jatim serius mengusut dugaan kasus korupsi ini, dan kasus ini tidak berhenti melalui proses penyelesaian dibawah meja.

Apalagi ada indikasi bahwa ada modus baru pada dugaan korupsi dalam pengadaan barang dan jasa melalui proses e-katalog, dimana barang yang dikirim ternyata tidak sesuai dengan barang yang ditawarkan atau spesifikasinya jauh dibawah yang ditawarkan atau yang tertuang dalam kontrak

Sementara itu Kompol Putu Angga dari Unit I Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim dan tim penyidik Iptu Dedi yang menangani kasus ini, ketika dihubungi melalui HP/WA nya 081232566252 belum memberi tanggapan.

Demikian pula PT Ladang Karya Husada ketika dimintai tanggapan melalui HP/WA nya 081231610974 juga belum memberi respon.

Sebagaimana info beredar, PT Ladang Karya Husada diduga sering membawa nama pejabat tinggi hukum seperti Wakil Jaksa Agung Sunarta, Kepala Biro Umum kejaksaan Agung, Ponco yang sekarang menjadi Kajati DI Yogyakarta, bahkan istri dari Ponco diinfokan sering berkantor di PT ladang Karya Husada cabang Jakarta

Senin, 20 Februari 2023

Mengapa Orang Padang Benci Jokowi?

Mengapa Orang Padang Benci Jokowi?
9 Objek Wisata Menarik di Timur Kota Padang, Nomor 8 Viral di TikTok
By. Erizeli Jely Bandaro

Kekuatan Indonesia itu ada pada pancasila yang menjadi mukadimah ( pembukaan ) atas UUD 45. Prof. Notonagoro menyatakan bahwa "kebaikan hukum positif Indonesia, termasuk (tubuh) UUD, harus diukur dari asas-asas yang tercantum dalam Pembukaan. Dan karena itu, Pembukaan UUD 45 harus dipergunakan sebagai pedoman bagi penyelesaian soal-soal pokok kenegaraan dan tertib hukum Indonesia". Jadi walau UUD 45 di buat dengan terburu namun para pendiri negara sepakat bahwa kalau nanti ada pasal dalam UUD 45 tidak sesuai dengan Pancasila akan diberbaiki kemudian. Yang penting batang tubuhnya sudah ada. Atas dasar itulah negeri ini tegak. Itulah buah konsesus para pendiri negara ini.

Namun apakah semua tokoh sepakat ? tidak. Ada dua kekuatan yang tidak bisa menerima Pancasila secara utuh, Yaitu Komunis dan Islam. Masing masing punya agenda berbeda , namun tujuan sama yaitu menguasai negeri ini dengan platform perjuangan mereka.  Dua tahun setelah negeri ini merdeka, terjadi pemberontakan Madiun , dimana Muso bersama PKI menyatakan tidak setia kepada Sokarno Hatta. Saat itulah Soekarno memerintahkan TNI untuk memadamkan pemberontakan. Kemudian dua tahun kemudian atau tahun 1950, diterbitkannya Perda No. 50 tentang pembentukan wilayah otonom oleh provinsi Sumatera Tengah waktu itu yang mencakup wilayah provinsi Sumatera Barat, Riau yang kala itu masih mencakup wilayah Kepulauan Riau, dan Jambi sekarang. Ini cikal bakal kelak terjadinya pemberontakan PRRI yang dimotori oleh gerakan ingin mendirikan negara Islam.

Tokoh Masyumi,  Isa Anshary, pada tahun 1951, dalam majalah Hikmah, menulis, "Hanya orang yang sudah bejat moral, iman dan Islamnya, yang tidak menyetujui berdirinya Negara Islam Indonesia.". Tahun 1955, Pemilu pertama sejak proklamasi digelar. Partai Masyumi mendapatkan nomor tiga partai pemenang Pemilu. Hasil Pemilu itu bertugas menyusun perbaikan UUD yang ada. Dari tahun 1956 sampai 1959, perdebatan berlangsung—untuk menentukan manakah yang akan jadi dasar negara, Pancasila atau Islam—pelbagai argumen dikemukakan oleh masing-masing pendukungnya. Banyak yang cemerlang, banyak yang membosankan, tapi sedikit yang segalak pidato Isa Anshary dalam majelis yang bersidang di Bandung itu,

"Kalau saudara-saudara mengaku Islam, sembahyang secara Islam, puasa secara Islam, kawin secara Islam, mau mati secara Islam, saudara-saudara terimalah Islam sebagai Dasar Negara. [Tapi] kalau saudara-saudara menganggap bahwa Pancasila itu lebih baik dari Islam, lebih sempurna dari Islam, lebih universal dari Islam, kalau saudara-saudara berpendapat ajaran dan hukum Islam itu tidak dan tidak patut untuk dijadikan Dasar Negara… orang demikian itu murtadlah dia dari Agama, kembalilah menjadi kafir, haram je-nazahnya dikuburkan secara Islam, tidak halal baginya istri yang sudah dikawininya secara Islam….

Sampai tahun 1959, Konstituante belum berhasil membentuk UUD baru. Pada saat bersamaan, Presiden Soekarno menyampaikan konsepsinya tentang Demokrasi Terpimpin. Sejak itu diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan Indonesia kembali ke UUD 1945. Dari 3 pemungutan suara yang dilakukan, sebenarnya mayoritas anggota menginginkan kembali ke UUD 1945, namun terbentur dengan jumlah yang tidak mencapai 2/3 suara keseluruhan. Keadaan gawat inilah yang menyebabkan Soekarno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959, yang mengakhiri riwayat lembaga ini. Tentu yang paling meradang atas dekrit Soekarno ini adalah kelompok Masyumi. Mengapa ? Cita cita mereka mengubah UUD sesuai dengan Islam gagal.

Itu sebabnya para tokoh Masyumi seperti Natsir, Safrudin Prawiranegara. Dan Soemtro Djoyohadikusumo dari PSI dan lain lain bergabung dengan gerakaan PRRI, yang sebelumnya pada tanggal 20 Desember 1956, Letkol Ahmad Husein berhasil merebut kekuasaan Pemerintah Daerah dari Gubernur Ruslan Nuljohardjo. Dalihnya Gubernur yang ditunjuk Pemerintah tidak berhasil menjalankan pembangunan Daerah. Gerakan  ini memicu terbentuk dewan kekuasaan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara. NKRI berderak. Pemerintah Soekarno berusaha mengajak mereka bermusyawah  namun gagal. Pada tanggal 15 Februari 1958 Letkol Ahmad Husein mengumumkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Padang. Pemerintah tersebut membentuk Kabinet dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menterinya.

Soekarno tidak punya pilihan kecuali memerintahkan TNI untuk menghentikan gerakan separatis tersebut. Namun apa hendak dikata, Kekuatan milter dari PRRI bisa dengan mudah memukul mundur Pasukan yang dipimpin Kolonel Ahmad Yani yang berkekuatan dari Divisi Diponegoro - Jawa Tengah. Mengapa? Karena peralatan militer PRRI lebih canggih. Ini berkat bantuan dari AS melalui operasi CIA. Akhirnya Soekarno memerintahkan pasukan Siliwangi  bersama RPKAD. Pemberontakan itu berhasil di tumpas, Karena ,para prajurik Siliwangi umumnya religius, sehingga mudah merebut hati orang padang yang agamais.  Beberapa tokoh di balik gerakan itu ditangkap dan ada juga yang melarikan diri seperti Soemitro Djoyohadikusumo ( ayahanda Prabowo). Adik Hamka melarikan diri ke AS, sementara Hamka sendiri ditangkap.

Setelah itu, Soekarno memecah mecah Sumatera Tengah menjadi tiga provisi yaitu, Sumbar, Riau dan Jambi. Orang Padang sangat marah dan dendam dengan Soekarno. Apalagi jauh sebelum merdeka, gerakan mendirikan Khilafah itu sudah ada di MInang dengan munculnya gerakan wahabi. Bagi orang padang, Soekarno adalah penanggung jawab hancurnya gerakan NKRI bersyariah atau Negara Islam. Makanya ketika ada momentum menjatuhkan Soekano, akses kepada AS yang sudah dimiliki tokoh pendukung PRRI dulu seperti Soemitro digunakan agar dapat memudahkan aksi Soeharto merebut kekuasaan secara konstitusi. Dan PKI yang merupakan pendukung utama Soekarno jadi korban paska kejatuhan Soekarno.

Makanya di era Soeharto, tidak ada gerakan dari orang Padang yang anti Soeharto. Begitupula ketika SBY berkuasa , orang Padang sangat mendukung, bahkan Gubernur Sumbar diangkat jadi Menteri Dalam Negeri. Artinya dendam orang padang kepada TNI yang terlibat langsung dalam operasi penumpasan tidak ada. Yang ada adalah dendam kepada Soekarno. Makanya jangan kaget bila sebagian orang Padang masih membenci Jokowi. Mereka sebetulnya tidak membenci Jokowi tetapi membenci PDIP sebagai pendukung Jokowi. Dan kalau mereka membenci PDIP Itu karena ketua umumnya adalah Putri Soekarno, yaitu Megawati. Stigma politi seperti ini sengaja di ciptakan oleh lawan Politik PDIP agar mampu mengalahkan PDIP di Sumatera Barat.

Seharusnya Orang padang membaca sejarah dengan baik. Bahwa para Tokoh masyumi akhirnya menyadari kesalahan mereka mendukung PRRI. Makanya ajakan Soekarno kembali kepangkuan ibu pertiwi mereka terima begitu saja. Dan mereka ikhlas dipenjara. Karena mereka memang salah. Mengapa ? karena gerakan mereka ditunggangi oleh Asing, yaitu AS, Dan mereka sadar bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah kemerdekaan dari pengaruh asing. Dan Soekarno telah bersikap jelas sesuai dengan konsesus berdirinya Negara ini berdasarkan Pancasila, yang tadinya mereka ikut menyetujui.

Jadi kalau sekarang masih ada gerakan islam bersama Partai berbasis islam yang ada di sumatera barat menyudutkan Jokowi, itu hasil rekayasa politik yang sengaja menciptakan stigma negatif terhadap PDIP dan Jokowi. Logika politik berkaitan dengan fakta sejarah masa lalu punya tempat sebagai bentuk balas dendam atas sikap Soekarno yang membubarkan Masyumi. Dan ini dimanfaatkan oleh AS untuk menggoyang Jokowi agar bisa menggantinya dengan presiden Pro AS. Yakinlah, setelah presiden pro AS terpilih orang padang engga akan dapat apa apa. Kehadiran Jokowi ke Padang dengan memberikan dukungan penuh atas pembangunan sumatera barat adalah cara cerdas yang seakan mengatakan kepada rakyat sumbar : Kita bersaudara. Musuh kita orang luar. Mengapa kita tidak bersatu dalam jalinan NKRI dan Pancasila. Lupakan masa lalu dan kita songsong masa depan dengan harapan melalui kerja keras pada hari ini. Jokowi sadar bahwa secara budaya orang minang itu tidak pendendam dan tidak anti pluralisme.  Rakyat hanyalah korban politik.

MINANG

Sejarah adat dan Agama.

Saya ingin menjelaskan budaya Minang. Mengapa saya mengatakan Minang? karena dalam kebudayaan Orang padang belum tentu orang Minang. Tetapi orang Minang pasti orang padang. Ini harus saya jelaskan terlebih dahulu sebelum masuk kepembahasan lain. Orang Minang itu dasarnya adalah adat besandi syara, syara bersandikan kitabullah. Jadi orang minang pasti islam. Tetapi bukan islam seperti kaum pedatang dari Arab yang sudah berbaur dengan budaya Arab. Islam di Minang adalah islam yang menerapkan adat atau tradisi.Jadi sama dengan islam di Jawa yang menerapka tradisi budaya. Mengapa sampai orang padang terbelah dengan Minang? itu karena politik adudomba yang di create oleh Belanda dengan memberikan dukungan secara tidak langsung kepada Tuanku Nan Tua dari Kota Tua di wilayah Agam membawa aliran Wahabi di penghujung tahun 1700. Setelah aliran itu meluas, Belanda membantu kaum adat memerangi kaun Padri itu.

Sewaktu saya kecil, yang saya baca hanyalah cerita tentang Imam Bonjol yang melawan para pendukung adat yang dibela Belanda. Setelah mulai tua, saya baca kisah tentang Tuanku Nan Rinceh, yang kurus tapi dengan matamenyala bagai api. Ia muncul dalam arena konflik sosial yang melanda Minangkabau sejak awal abad ke 19. Karena dia memaksakan bagaimana islam mesti ditaati tanpa ditawar, konon ia membunuh saudara ibu kandungnya. Wanita itu seorang pengunyah tembakau. Masyarakat yang ingin ditegakkan Tuanku Nan Rinceh memang masyarakat yang ideal: tak ada orang memakan sirih. Pakaian putih-putih haru dikenakan, dan kaum pria harus berjanggut. Wanita haru bertutup muka, tak boleh memakai perhiasan. Kain sutera harus dijauhi. Syariat Islam harus dijalankan, dan siapa yang tak taat dihukum.

Mengapa sampai aliran Wahabi bisa diterima oleh sebagian orang padang. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, sebuah studi tentang masa riuh 1784-1847 dapat menjawab dengan objectif. Seperti tampak dari judulnya, Dobbin mencoba menunjukkan maraknya api keagamaan di Minangkabau itu sebagai jawaban sosial atas perubahan ekonomi yang terjadi. Kaum saudagar umumnya lebih kaya dibandingkan petani yang hidup dari kebun kopi dan pala. Para saudagar Minang ini, umunya mereka adalah patron, seperti kakek saya sudah mengenal ekspor ketika itu dan bermitra dengan orang asing seperti Europa dan China. Jadi gap kaya miskin sangat lebar sehingga mudah di provokasi menjadi kekacauan sosial, dengan membawa emosi agama. Belanda menggunakan kaum wahabi untuk menghancurkan kaum adat, yang akhirnya terpaksa kaum adat minta tolong ke Belanda.

Baru pada 1821 kekuasaan kolonial Belanda masuk ke kancah sengketa. Tapi konflik bersenjata itu masih panjang, dan barus habis setelah 27 tahun. Apa sebenarnya yang didapat? Kerusakan, tentu, tapi juga satu titik, ketika orang menyadari bahwa tiap tatanan sosial dibentuk oleh kekurangannya sendiri. Kaum Padri bisa mengatakan bahwa Islam adalah sebuah jalan lurus. Tapi jalan yang paling lurus sekali pun tetap sebuah jalan: tempat orang datang dari penjuru yang jauh dan dekat, berpapasan, tak menetap. Yang menentukan pada akhirnya bukanlah bentuk jalan itu, melainkan orang-orang yang menempuhnya. Islam jalan lurus, tapi Minangkabau akhirnya tak seperti yang dikehendaki kaum Padri. Apalagi pada 1832 utusan Tuanku Imam Bondjol kembali dari Makkah: kaum Wahabi telah jatuh dan ajaran yang dibawa Haji Miskin dinyatakan tak sahih.

Maka Imam Bonjol pun berubah. Ia mengundang rapat akbar para tuanku, hakim, dan penghulu. Ia mengumumkan perdamaian. Ia kembalikan semua hasil jarahan perang. Ia berjanji tak akan mengganggu kerja para kepada adat. Sebuah kompromi besar berlaku. Di tahun 1837, administratior Belanda mencatat bagaimana masyarakat luas menerima formula yang lahir dari keputusan Imam Bonjol itu: "Adat barsandi Sarak dan Sarak barsandi Adat". Tetapi reinkarsi wahabi itu sampai kini masih ada di Sumatera Barat, dan menjadi virus merusak sendi sendi budaya asli orang padang.

Makanya orang Minang jelas tidak mungkin bisa terpengaruh politik ala wahabi. Kecuali orang padang yang tidak mengakui adat Minang. Orang padang yang ada di perantauan umumnya adalah orang minang, yang engga gampang di provokasi oleh orang berjubah dan berjanggut. Karena orang minang itu sangat mandiri dan tidak gampang di provokasi. Orang minang itu cerdas. Kalau engga cerdas mana mungkin bisa survive di rantau, sampai ke mancangera. kalau mereka memilih Jokowi karena mereka cerdas. Adat mengajarkan itu.!

HIdup berakal mati beriman

Orang minang itu ada prinsip hidup yang menurut saya sangat membumi, yaitu " hidup berakal mati beriman." Perhatikan ajaran itu, tidak ada pituanmengatakan " hidup beragama mati beriman. Mengapa ? karena landasan orang minang itu beragama karena budaya. Dan budaya itu bertumpu kepada akal, namun akal itu menuntun orang minang menuju Tuhannya. Mengapa orang Minang, para pemudanya di haruskan untuk merantau " Karatau madang di hulu, Babuah, babungo balun, Marantau bujang dahulu, Di rumah baguno balun. Artinya apa ? orang minang yang tidak merantau itu tidak berguna dirumahnya. Selagi dia masih kampung dia tidak akan apa itu Lain lubuk, lain ikannya. Tidak akan bisa menghargai pluralisme. Adat minang itu percaya bahwa alam terkembang jadi guru. Artinya buka mata lebar lebar, jangan seperti katak dalam tempurung.

Ketika saya pergi merantau, orang tua saya mengingatkan saya bahwa saya putra minang dan sudah menjadi tradisi pria minang itu merantau. Ada istilah bagi anak muda minang " Jangan merantau sepanjang nasi bungkus. Artinya kalau bekal habism pulang! Jangan. Itu laki laki gadang sarawa ( pengecut ). Merantulah seperti marantah China. Engga pulang kalau gagal. Ini motivasi hebat bagi setiap pria minang. Bahwa merantau menguji akal dewasanya untuk pantas disebut mamak rumah. Di rantau pria minang melihat fakta bahwa kehidupan itu penuh warna. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada beragam suku menghuni bumi ini. Sikap mental anti pluralisme, bukanlah yang diajarkan adat minang.

Orang minang itu mengutamakan induk semang ( boss ) daripada keluarga jauh. Mereka pandai merebut hati boss , karena memang diajarkan oleh adat. Kebayang engga kalau orang minang itu terjebak dengan ajaran ekslusifitas agama, pasti mereka gagal berkembang di rantau. Dan kalau dia gagal, orang tua akan bilang" tidak berakal. " Bahkan kalau hidupnya berengsekpun disebut " tidak berakal" Mengapa tidak disebut "tidak beragama? karena orang minang tahu bahwa karakter orang itu hebat karena akalnya bekerja baik. Walau agamanya hebat tapi akalnya tumpul tetap aja jadi lalar  hijau ( pembuat masalah ).

Karena didikan adat minang itu mengharuskan setiap pria mandiri. Dari kecil pria minang udah dilatih oleh pamannya bagaimana survival seperti diajarkan jadi koki agar bisa buka restoran, perbaiki jam, agar bisa buka service jam, menjahit, agar bisa hidup dari jasa menjahit, dan palsafah dagang diajarkan oleh paman. Seperti jangan makan sebelum penglaris. Disiplin utamakan pendapatan daripada belanja. Jangan kalah dengan ayam bangun tidur.  Agar lebih banyak kerja dan ikhtiar daripada tidur. Jangan pulang sebelum pergi. Artinya jangan takut dengan resiko, yang sehingga membuat kamu tidak pernah melangkah. Masih banyak lagi.

Dalam hal politik , orang Minang diajarkan kecerdasan politik, iyakan apa kata orang, kita tetap dengan sikap kita. Artinya, kalau ada yang provokasi orang minang, tidak akan bisa mengubah cara dia berpikir yang bebas. Mereka dilatih tidak jadi follower buta. Kenapa ? agar hidup berakal mati beriman. Kalau hidup beragama tanpa akal,  mati pasti bego.!