Selasa, 05 Juni 2012

[Media_Nusantara] PERANG 2014 DIMULAI

 

PERANG 2014 DIMULAI

Mungkin anda suka membaca cerita Silat Koo Ping Hoo waktu remaja dulu. dimana peperangan penuh trik dan intrik ternyata terjadi di kalangan istana. Demikianlah kurang lebih yang kita alami dewasa ini di NKRI.

Dapur CIKEAS panik. Pasalnya, siapa lagi kalau bukan ulah Dahlan Iskan, Menneg BUMN. Sudah diketahui umum bagaimana karir politik Dahlan Iskan didesain jauh hari di Dapur CIKEAS oleh Hartati Murdaya, Budi Setiawan (mantan Dirjen Agama Budha) dan Ibu Ani. Adalah Winarni, keponakan SBY dari Pacitan yang selalu berdekatan dengan Ibu Arlita (isteri Budi Setiawan dikenal dengan Pak Buset) yang menyatakan bagaimana Dahlan Iskan diminta untuk membersihkan PLN dari keroyokan supplier supplier yang mengatasnamakan Partai oDemokrat sampai jatah Grup Murdaya menjadi tipis. Dari sinilah karir politik Dahlan Iskan menjadi dirut PLN dimulai dan dia menepati janji. supplier ditertibkan. Artinya dikembalikan kepada para pemasok besar diantaranya Grup Murdaya.

Bagai disambar petir di siang bolong, ketika menjabat Menneg BUMN sekonyong-konyong bukti bukti menunjukkan bahwa Dahlan Iskan terang-terangan main mata dengan JK, kroni lamanya yang dulu membackup berkembangnya koran RADAR di hampir setiap Kota, menekan TRIBUN nya Kompas, dari duit tilepan Gus Dur. Adalah Alwi Hamu, sesama wartawan (pebisnis media) sahabat lamanya, yang dikenal sebagai tangan kanan JK, yang kini hotline. Kontan SBY berang. Diantaranya adalah penempatan direksi Pertamina yang dulu orang2 JK tanpa melibatkan SBY.

Dahlan Iskan memainkan dengan kartu "profesionalisme" dengan istilah2 "The Dream Team", "Manufacturing Hope" dll untuk menarik simpati jajaran rakyat yang sudah muak dengan gaya politik dan permainan kekuasaan. Melalui jaringan wartawan dan media yang dimilikinya, Dahlan melakukan manuver dengan cantik. Satu kaki, menakut-nakuti SBY karena dia punya jaringan media, di kaki yang lain dia merapat ke JK kroni lamanya ketika membesarkan RADAR. Di kaki yang lain dia menjaga konsesi dengan Murdaya Grup yang selama ini mensponsorinya melenggang sbg dirut PLN dan Menneg BUMN lewat jalan tol bebas hambatan langsung dari dapur CIKEAS.

Banyak kalangan membaca langkah Dahlan Iskan banyak mencontoh Aburizal Bakrie. Pertama mbalelo kepada konglomerat yang menjadikan dia, dalam hal Dahlan Iskan adalah Murdaya Grup. ICAL juga mbalelo kepada para konglomerat yang membiayainya masuk kembali ke politik ketika ICAL sudah dalam posisi tinggal kolor saja.  Namun Dahlan lebih piawai. Karena dia lebih berpengalaman dalam mengolah pencitraan. Dia tahu apa yang disukai pembaca. Namun, bacaan intelejen biasanya lebih akurat. Keduanya, baik ICAL mau pun DAHLAN sama berangkat dari bisnis kotor untuk memperkaya diri, sehingga dengan mudah bisa dikendalikan pakai remote control untuk mempertahankan kepentingan dirinya sendiri. Keunggulan Dahlan adalah kepiawaiannya menampilkan bahwa dirinya "nothing to loose" karena sudah pernah hampir mati ketika operasi cangkok hati di RRC sehingg semua langkahnya adalah kepasrahan semata. Bagi kerja intelejen justru itu faktor yang amat bagus dan memudahkan karena tidak perlu mahal2 membangun kepercayaan Rakyat. Maka, apapun alasannya, langkah Dahlan Iskan patut untuk terus dibaca dengan seksama. Bagaimana dia memainkan dagangan politiknya, kemana arahnya akan dipersembahkan atau memang sekedar bermain untuk dijual kepada yang nantinya jelas potential menang.

Kembali ke soal direksi Pertamina, Ketika dikonfrontir oleh SBY ke Karen kembali atasnama Ibu Ani disebut-sebut. Ini menarik. Ada apa dengan hubungan SBY dan isterinya? Apa benar keduanya sudah tidak sejalan dalam strategi 2014 sekaligus strategi penyelamatan paska SBY.

Bagaimana ceritanya kok JK jadi berperan penting? Kisahnya balik pertengahan tahun lalu, ketika Wapres Budiono bertemu dengan Buya Syafiie Maarif. Perbincangan dua jam lamanya, Buya menjelaskan kondisi NKRI yang sudah carut marut mulai dari sistem kenegaraan hasil amandemen yang ternyata tidak sistemik sampai praktek mafia di segala bidang akibat kepemimpinan yang lemah, akhirnya membuahkan pertanyaan dari Budiono kepada Buya, apakah yang harus saya perbuat Buya? Buya mengusulkan agar Budiono undur diri  bersama  jajaran menteri professional yang non partai, agar selamat.

Namun niat Budiono undur diri digagalkan oleh JK yang diam-diam main mata dengan SMI yang dibackup USA. Lagian SMI tentu takluk sama JK setelah JK dapat rekaman dari seorang intel ketika SMI nangis2 mengadu ke JK bahwa dirinya telah ditipu dalam kasus Century. Otak penipuan justru orang yang dulu sering di banggakan oleh SMI yakni Agus Martowardoyo (AM) yang sekarang Menkeu. AM yang senantiasa tampil profesional telah memukau SMI, padahal AM lapor secara rutin ke ICal.

Kata JK: "Untuk apa Pak Budiyono mengundurkan diri? Nanti yang untung Djoko Suyanto, tentara lagi, kalau SBY lengser di tengah jalan kayak Pak Harto. Sementara Bu SMI sudah sepakat bergabung dengan saya. Saya kan sudah tua, Jadi tugas saya menyiapkan yang muda seperti Bu SMI. Peranan USA kan sudah terbukti sebagai mana 2004 dan 2009". Kontan Budiono sepakat dengan JK.

Apa betul USA hanya main SATU? Tentu tidak. JenderaL Polisi Sutanto adalah binaan yang sudd mulai dimodali besar-besaran melalui berbagai investasi perkebunan dan pertambangan. Skenario yang dibawa Jenderal Sutanto justru bagaimana membesarkan SMI untuk kemudian diadikan tumbal. Sementara Laksamana Slamet Subiyanto yang diundang ke Moskow agaknya belum banyak maneuver, selain gerakan kembali ke Pancasila dan UUD 1945 ASLI yang memang strukturnya sama persis dengan UUD negara komunis.

Mengapa JK berkepentingan untuk menghalau gerakan Djoko Suyanto yang mau melengserkan SBY ditengah jalan? Ini lah dagangan JK yang terbukti ampuh. Pasalnya SBY ingin bertahan sampai 2014, sementara kroni CIKEAS pimpinan Ibu Ani justru ingin yakin 100% bahwa pergantian kekuasaan aman terkendali dan harus jatuh ketangan CIKEAS lagi. Untuk keselamatan nasib keluarga besar. Cara paling aman adalah membuat drama Kudeta terkendali. Untuk tujuan itu lah, Djoko Suyanto merapat ke Akbar Tanjung, untuk membantu maneuver memecah Golkar sambil menyiapkan scenario "Kudeta terkendali" tsb. Itu pula yang membuat Anas Urbaningrum berani sesumbar siap digantung di Monas. Kelompok ini sudah mulai me jajaki pasangan Djoko Suyanto dan Agung Laksono.

Disinilah SBY berada di persimpangan jalan. Safe landing macam apa. Antara bertahan 2014 atau Kudeta Terkendali. JK tahu persis, maka dagangan "Aman sd 2014" dibeli mutlak oleh SBY. JK naik daun. Langsung pegang kendali. Exercise posisi Hatta Ali sebagai Ketua MA. Sukses. Dahlan Iskan penciumannya tajam, langsung me rapat ke Kroni lamanya tsb. Prinsipnya sama. Pedagang. Yang penting main dulu, sambil membaca Sikon, nantinya jualan  kemana, dipikir belakangan. Ini lah day to day politik, permainan bisa zig zag, tergantung kekuatan sesaat. Kayak Silat. Itu lah prinsip Pedagang. Tidak Ada menang kalah. Adanya hanya untung. Artinya ikut yang menang.

Selain SBY me rapat ke JK, juga membangun aliansi dengan Prabowo dan PDIP. Sayangnya, Prabowo Dan PDIP tidak mempunyai Jaringan di lapangan yang mampu memainkan day to day politik seperti halnya Kubu JK seperti dilakukan oleh Alwi Hamu dan Dahlan Iskan. Bagi kubu ini, politik harus nyata, harus bisa menghasilkan, konkrit, apakah uang atau kekuasaan (posisi). Maneuver bisa dirasakan. Tidak demikian halnya dengan Prabowo dan PDIP. Kedua kelompok ini hanya m kepada SBY untuk dirangkul 2014 nanti, sehingga kurang menguntungkan secara day to day politik yang justru menjadi beban SBY sekarang ini. Itu sebabnya KUBU JK jadi terasa kuat. Itu pula sebabny a Djoko Suyanto me rapat KE Akbar Tanjung, untuk mengimbangi.

Bagaimana dengan petualang politik yang menghembuskan Bu Any sebagai  caprès 2014? Apa konteksnya? Nah kembali ke awal tulisan ini, yaitu DAPUR CIKEAS PANIK. Adalah Hartati Murdaya dan Ruhut Sitompul dengan motif berbeda namun sejenis. Dapur mulai berantakan. Karena selama ini bukan membangun jaringan melainkan hanya mendompleng kekuasaan Dapur CIKEAS untuk menekan sana sini. Pada akhirnya, bila nantinya gagal, tinggal kuru loncat, sebagaimana dari PDIP loncat ke Demokrat. Dan Ruhut Sitompul bisa dengan mudah di depan layar  TV menangis tersedu sedan dengan berkata: "Oh Pak SBY, mengapa engkau mengkhianatiku yang selama ini setia setengah mati mendukungmu, hancurlah hatiku, leburlah harapanku, apa boleh buat, Aku terpaksa meninggalkanmu, bye bye beyeku". Maka lagu berjudul KU KAN SAMPAI DISANA diganti menjadi SENDIRI LAGI KINI AKU SENDIRI LAGI ........ Lonely .......

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar